Sejarah Wisata Pulau Tidung

Sejarah Perkembangan Wisata di Pulau Tidung

Sebelum tahun 2009, Pulau Tidung hanyalah merupakan pulau pemukiman biasa yang baru saja mengalami pemekaran wilayah dari status sebelumnya yang hanya merupakan Kelurahan yang membawahi beberapa pulau menjadi ibukota Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang sekarang membawahi setengah dari sekitar 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Pari, Pulau Lancang dan Pulau Untung Jawa.

Baru memasuki awal tahun 2009 Pulau Tidung mulai sering didatangi beberapa pengunjung dari berbagai kalangan, dari mulai perguruan tinggi yang ingin melakukan penelitian, lembaga pemerintah dan LSM yang ingin mengamati maupun dari para Backpackers yang mau mengeksplorasi keindahan alam Pulau Tidung.

Sebut saja Mas Teguh (berdasarkan ingatan saya) yang memulai perjalanan ke Pulau Tidung untuk melengkapi buku karangannya, yang menurut saya punya sumbangsih kepada dunia luar untuk membuka mata melihat keunikan pulau tidung, dan juga terdokumentasi di Metro TV tentang seorang pengamat Travelling (kalo ga salah bernama Trinity) yang mengomentari tentang daya tarik pulau tidung yang mempunyai keelokan alam lain dari pada pulau-pualu wisata lain di Indonesia.

Dari unsur backpackers sebut saja mas Ryan, mas Bobby, mas Carlos dan lain-lain (maaf yang lain tidak saya sebut karena saya tidak ingat namanya satu persatu) yang mulai membuka jalan untuk menghadirkan rombongan-rombongan wisatawan ke Pulau Tidung, yang akhirnya awal dari puncak pesatnya / meledaknya pengunjung yaitu pada tanggal 21 Maret 2009. ( mohon dikoreksi jika saya salah).

To Be Continue…

Sejarah Perkembangan Wisata di Pulau Tidung (bagian 2)

Adalah penginapan Sudi Mampir milik bapak Muntako Asiro, penginapan H. Elly milk bapak H. Sam’un dan penginapan Lima Saudara milik bapak H. Abdul Hamid yang merupakan penginapan pertama dan menjadi cikal bakal merebaknya Homestay di Pulau Tidung seperti yang terlihat sekarang.

Pemilik akomodasi dan equiment wisata pun terbilang masih sangat sedikit pada waktu itu (awal tahun 2009), peralatan snorkeling misalnya, pada saat itu hanya pak mukti ali golay dan ibu yuli yang memiliki beberapa set. Sepeda pun hanya H. Abdul Hamid yang menyewakan dengan memakai sepeda warga yang dibayar 17ribu per hari.

Untuk catering saat itu baru pak Wardi yang mau menerima pesanan makan dari para tamu, sisanya sebagian wisatawan banyak yang memilih makan di warung makan bapak maskur / ibu yayo. Untuk local guide saat itu tercatat saudara afif, pak wardi, asep, serta saudara iman yang memulai untuk jadi pemandu wisata.

Baru pada pertengahan bermunculan-lah para Agen wisata lokal (merupakan putra / pemuda pulau tidung) yang menyediakan jasa perjalanan atau paket wisata ke pulau itu, antara lain Island Adventure, Enjoy Pulau Seribu, Thousand Travelling, Pulau Seribu Tours dan banyak lagi yang belum tersebut namanya disini. Mereka itulah yang kira-kira mempelopori berkembang pesatnya wisata di Pulau Tidung hingga saat ini.

  Penulis

Muamar kadafi